Selasa, 16 Februari 2010 - 08:40:28 WIB
Bahaya Lidah & Kewajiban Menjaganya
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Berita Umum
- Dibaca: 234 kali
Bismillahirrohmanirrohim
بسم الله الرحمن الرحيم
oleh Al-Ustadz Abu Muawiah -hafidzahullah-
Bahaya Lidah
Allah Ta’ala berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya ada raqib
atid.” (QS. Qaf: 18)
Raqib adalah malaikat yang selalu menyertainya dan atid maknanya yang hadir di
sisinya.
Dari Sahl bin Sa’ad As-Saidi -radhiallahu anhu- dia berkata: Rasulullah
-shallallahu alaihi wasallam- bersabda:
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ
الْجَنَّةَ
“Barangsiapa yang menjamin untukku bisa menjaga apa yang ada di antara dua
janggutnya (janggut dan kumis) dan apa yang ada di antara kedua kakinya, maka
aku menjamin surga untuknya.” (HR. Al-Bukhari no. 6474)
Yang berada di antara janggut dan kumis adalah lidah, dan yang berada di antara
dua kaki adalah kemaluan.
Dan dalam hadits Muadz bin Jabal tatkala Nabi -alaihishshalatu wassalam-
menyebutkan masalah Islam, rukun Islam, dan jihad di jalan Allah. Muadz berkata di akhir hadits:
ثُمَّ قَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمِلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا رسولَ
اللهِ. فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا، قُلْتُ: يَا رسولَ
اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ قَالَ: ثَكِلَتْكَ
أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ
إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟!
“Kemudian beliau bersabda, “Inginkah kuberitahukan kepadamu penegak dari semua
amalan itu?” aku (Muadz) menjawab, “Mau wahai Rasulullah.” Maka beliau memegang
lidahnya seraya bersabda, “Tahanlah ini,” aku bertanya, “Wahai Rasulullah,
apakah kami betul-betul akan disiksa akibat ucapan kami?” beliau menjawab,
“Kasihan kamu wahai Muadz, apakah ada yang menjerambabkan manusia di dalam
neraka di atas wajah-wajah mereka kecuali buah dari ucapan lisan-lisan
mereka?!” (HR. At-Tirmizi no. 2616 dan dia berkata, “Hadits hasan shahih.”)
Penjelasan ringkas:
Allah Ta’ala berfirman mengingatkan nikmat-Nya, “Bukankah Kami telah memberikan
kepadanya dua mata, satu lidah, dan dua bibir.” Maka lidah termasuk dari nikmat
terbesar dari Allah kepada hamba yang dengannya mereka bisa mengungkapkan isi
hati dan keinginan mereka.
Hanya saja nikmat yang besar ini bisa menjadi
sesuatu yang akan membinasakan pemiliknya di dunia dan di akhirat. Dia bisa
menjadi sebab terbesar masuknya seseorang ke dalam surga, tapi sebaliknya dia
juga bisa menjadi sebab terbesar yang menggelincirkan seseorang ke dalam
neraka. Karenanya tidak akan sempurna keislaman seseorang sampai dia meyakini
bahwa semua ucapan yang keluar dari mulutnya akan dia pertanggungjawabkan di
hadapan Allah, dan dia tidak akan mendapatkan inti dari ajaran
Islam selama dia tidak menjaga lisannya.
-------------------------------------------------------------------
Kewajiban Menjaga Lidah
Allah Ta’ala berfirman:
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ
وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً
“Dan janganlah kamu bersikap pada apa yang kamu tidak mempunyai ilmu
tentangnya. Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai
pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra`: 36)
Maksudnya: Janganlah kamu berucap pada sesuatu yang kamu tidak punya ilmu
padanya. (Tafsir Ibnu Katsir: 3/39)
Dari Abu Musa Al-Asy’ari -radhiallahu anhu- dia berkata: Aku bertanya, “Wahai
Rasulullah, kaum muslimin manakah yang paling utama?” maka beliau menjawab:
مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيِدِهِ
“Siapa yang kaum muslimin lain selamat dari gangguan lidah dan tangannya.” (HR.
Al-Bukhari no. 6477 dan Muslim no. 2988)
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwa dia
mendengar Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيْهَا, يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
“Seorang hamba betul-betul mengucapkan sebuah ucapan yang dia belum jelas
padanya, maka ucapan tersebut membuat dia terjatuh ke dalam neraka sejauh
antara timur dan barat.” (HR. Al-Bukhari no. 6477 dan Muslim no. 2988)
Makna dia belum jelas padanya adalah dia belum berfikir apakah ucapan tersebut
merupakan kebaikan atau bukan.
Dari Sufyan bin Abdillah -radhiallahu anhu- dia berkata: Aku berkata, “Wahai
Rasulullah, beritahukan kepadaku satu perkara yang aku bisa berpegang teguh
kepadanya,” beliau menjawab, “Katakanlah: Aku beriman kepada Allah kemudian
istiqamahlah.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, perkara apa yang paling kamu
khawatirkan akan menimpaku?” maka beliau memegang lidahnya sendiri
kemudian bersabda, “Ini.” (HR. At-Tirmizi no. 2410 dan asalnya dalam riwayat
Muslim)
Dari Uqbah bin Amir -radhiallahu anhu- dia berkata: Aku bertanya, “Wahai
Rasulullah, apa itu keselamatan?” beliau menjawab:
أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيْئَتِكَ
“Tahanlah lidahmu, hendaknya rumahmu menjadi luas bagimu, dan tangisilah
dosa-dosamu.” (HR. At-Tirmizi no. 2406 dan dia berkata, “Hadits hasan.”)
Maksudnya: Hendaknya kalian tetap tinggal di rumah kalian.
Penjelasan ringkas:
Tanda kesempurnaan islam adalah kemampuan untuk menjaga lidah dari mengucapkan
sesuatu yang tidak jelas manfaatnya. Karenanya barangsiapa yang bisa menjaga
lidahnya maka sungguh dia telah mendapatkan keberuntungan dan keselamatan di
dunia dan di akhirat. Oleh karena itulah Nabi -alaihishshalatu wassalam-
senantias mengingatkan para sahabatnya -padahal mereka adalah orang yang dekat
dengan beliau- agar selalu memperhatikan lidahnya, jangan sampai lidah tersebut
menimbulkan kejelekan bagi dirinya, tatkala pada hari kiamat dia tidak bisa
mempertanggung jawabkan semua ucapan yang keluar dari mulutnya. Maka lidah bisa
memasukkan seseorang ke dalam surga akan tetapi dia juga bisa menjerumuskan
pemiliknya jauh ke dalam neraka, wal’iyadzu billah.
Bank : MANDIRI SYARIAH
Bank : MUAMALAT| Oleh: Fauzan Din SOsial |
| Semoga semakin berkembang ... |
| Oleh: idris |
| zakat memang berpotensi utk mengangkat derajat kehidupan sesama ummat muslim. namun saat ini belum dikelola secara baik. |